Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh unggahan seorang warganet yang mempertanyakan harga gudeg di Yogyakarta. Dalam unggahannya, terlihat nota pembelian tiga porsi gudeg dengan total harga mencapai Rp85.000. Banyak netizen pun langsung memberikan reaksi beragam—ada yang merasa harga tersebut terlalu mahal, sementara yang lain menganggapnya wajar mengingat lokasi dan kualitas bahan yang digunakan.
Menanggapi viralnya kasus ini, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Kawasan Cagar Budaya (PKCB) Yogyakarta angkat suara. Melalui juru bicaranya, UPT PKCB menyatakan bahwa harga tersebut masih dalam kategori normal. “Harga itu sudah termasuk nasi, lauk pelengkap seperti ayam kampung, telur, dan krecek, serta porsi yang cukup besar. Belum lagi biaya operasional di kawasan cagar budaya yang memang memiliki standar tersendiri,” jelas perwakilan UPT PKCB.
Gudeg sendiri merupakan kuliner ikonik Yogyakarta yang telah menjadi bagian dari identitas budaya lokal. Proses memasaknya yang rumit dan memakan waktu berjam-jam membuat harga jualnya tidak bisa disamakan dengan makanan cepat saji. Selain itu, banyak warung gudeg yang menggunakan bahan-bahan tradisional dan organik, yang tentu berdampak pada harga akhir.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, menikmati gudeg bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman budaya. Meski harganya terkesan tinggi bagi sebagian orang, nilai historis dan cita rasa otentik yang ditawarkan menjadikannya layak untuk dicoba.
Untuk informasi lebih lanjut tentang kebijakan dan komunitas lokal yang mendukung pelestarian budaya kuliner, Anda bisa mengunjungi Indobet.